Kategori

Energi Positif

By On Juni 13, 2011

eramuslim - Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi seorang sahabat di rumah sakit. Tak ada yang aneh dengan orang sakit, dinding putih teman setia, selimut bergaris biru muda, senampan buah segar bawaan penjenguk yang datang silih berganti, dan sisa makanan pagi yang belum sempat diangkat petugas.

Ya, tak ada yang aneh dengan sahabat saya yang sakit kecuali pasien yang satu kamar dengannya. Seorang bapak berusia 60-an tampak iri dengan kehadiran saya beserta beberapa sahabat lain saat menjenguk sahabat saya, pasien sekamarnya. Binar matanya menyiratkan kerinduan akan seseorang seperti halnya sahabat saya yang tak hentinya dijenguk keluarga, kerabat maupun sahabat.

Segera saya hampiri ia dan menyapanya. Belum satu kata keluar dari mulut saya ketika tiba-tiba ia menangkap tangan saya dan menariknya perlahan ke dadanya. Sebulir air jatuh dari sudut matanya yang memendam sepi, beberapa kata pun mengalir dengan paraunya. Kepada saya ia bercerita, sudah tiga hari anaknya tidak menjenguknya karena anak tunggalnya itu harus berdagang lebih giat untuk mengumpulkan biaya berobat. Isterinya telah lama meninggal sehingga ia hanya hidup berdua dengan anaknya.

Tidak ada keluarganya di Jakarta, kerabat pun tak ada yang menjenguknya. Sahabat? Mungkin sudah terlalu lama ia tak lagi mengenal arti sahabat. Setidaknya, dalam tiga hari ini. Selain anaknya tak ada lagi yang diharapkannya untuk sekadar tahu keadaannya di rumah sakit.

Saya teringat saat ikut serta salah satu kegiatan Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati di RS Fatmawati. Atas seizin pihak rumah sakit, kami, para relawan Melati mengunjungi paviliun anak dan mendongeng untuk anak-anak yang tengah menjalani masa perawatan. Ada ceria, dan tawa, juga tangis selama acara itu berlangsung. Betapa anak-anak yang mulai bosan dengan suasana rumah sakit, jenuh dengan perawat-perawat yang serba putih, atau bahkan wajah orang tua mereka yang tampak muram, hari itu terceriakan. Satu persatu para relawan mendatangi anak-anak yang tidak bisa turun dari pembaringannya, sementara beberapa relawan mengumpulkan anak-anak lainnya di aula untuk diajak bermain dan mendongeng.

Ada bening air yang siap tumpah di setiap pelupuk mata para relawan, menyaksikan wajah-wajah muram orang tua yang berhari-hari menunggu anaknya yang tak kunjung sembuh. Tak sedikit yang menangis ikut meresapi penderitaan anak-anak itu, sangat tergambar betapa menderitanya mereka, dari tangisnya, dari sorot matanya yang polos, dari keluh rintihnya menahan sakit, juga dari lunglai tubuhnya.

Saya dan juga rekan-rekan relawan lain sangat yakin, bahwa kesembuhan seseorang disebabkan oleh tiga faktor, Allah, dokter yang merawatnya, dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah semangat untuk sembuh dari si pasien. Dan hal kecil yang kami lakukan pada hari itu hanyalah sedikit energi positif untuk menyalakan semangat hidup anak-anak itu. Setidaknya, semangat untuk sembuh.

Kepada bapak tua yang sekamar dengan sahabat saya itu, saya terus merapatkan diri untuk bisa lebih dekat mendengarkan suaranya yang makin parau. Harap saya, semoga hal kecil yang saya lakukan itu bisa memberikan energi positif baginya. Terlebih ketika serombongan sahabat saya memberinya salam dan doa sebelum kami meninggalkan kamar tersebut. Tak lupa, buah tangan yang kami niatkan untuk sahabat kami, dialihkan kepada 'sahabat' baru kami.

Dalam banyak kesempatan, tentu kita bisa memberikan energi positif kepada siapapun di lingkungan kita. Seperti halnya saya berharap, tulisan ini pun bisa memberikan energi positif bagi siapa saja yang membacanya.


Bayu Gautama

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==