Kategori

Lelaki Sejati

By On Oktober 19, 2011

Kata-kata Ibu tak banyak tertumpah keluar dari bibir tapi begitu terucap bagai menohok tepat di ulu hati. Bukan. Bukan hanya menohok tapi bahkan merajang. Nada pahit menggeletar parau dari suaranya bila ia tak lagi dapat berharap dari salah seorang anaknya.

“Apa tidak ada laki-laki lagi di keluarga kita?”

Itu adalah ungkapan bila Ibu tak dapat mengharap sama sekali dari salah seorang anak lelakinya. Ibu adalah seorang yang perkasa. Menjadi kepala keluarga saat Ayah meninggalkan kami begitu saja di tengah ladang karet Kisaran, entah untuk cari kerja atau mencari istri lagi. Ibu menyeret-nyeret kami dari Pematangisantar, Tebingtinggi, Lubuk Pakam, hingga terdampar di tepi kota Medan.

Menjadi buruh masak di perkebunan kelapa sawit milik dua pengusaha besar asal Malaysia dan pribumi.

“Tidakkah kau mau cari uang barang sikit, Di?” Ibu mengungkapkan keprihatinan saat Bang Edi mulai mengenal rokok dan nongkrong-nongkrong di ujung jalan bersama para pemuda.


“Di mana aku cari uang, Mak,” keluh Bang Edi muram. “Apa bisa aku kerja tanpa ijazah sama sekali?”

Ibu terdiam. Sepanjang hari Bang Edi luntang-lantung, sesekali membawa uang yang Ibu tahu dari hasil mengompas orang.

Ibu tak menangis ketika Bang Rizal dihajar segerombolan pemuda lantaran menghamili anak gadis Pak Rustam, seorang yang cukup terpandang di daerah Sei Belutu. Sekalipun Bang Rizal mengaku mereka sama-sama suka, tentu pihak Pak Rustam sama sekali tidak terima.

“Kamu harus nikahi dia, Jal,” Ibu menegaskan.

Aku mengantarkan Ibu melamar Kak Erni. Akan tetap terpatri dalam ingatan betapa dahsyat penghinaan terlontar. Seharusnya mereka berterima kasih atas pertanggung jawaban Bang Rizal, bukannya menuduh kami gila materi hingga berani datang tak menyembunyikan diri.

“Bertanggung jawab atau cari tempat makan, heh?” hardik Bu Rustam.

Aku masih terlalu kecil untuk tahu kemelut itu. Hanya kudapati Ibu menangis meraung saat sujud sembahyang malam di kamar belakang. Aku ikut-ikutan menangis lalu memeluk kakinya agar beliau tidak tergetar hebat lagi seperti itu.

“Jadi laki-laki harus berani dan tahan banting, Yus,” Ibu mengelus rambutku. Mata dan pipinya demikian jernih dalam basuhan air mata. “Dua abangmu bukan laki-laki.”

“Mereka perempuan, Mak?”

“Tidak juga. Terlahir laki-laki tapi sama sekali tidak punya jiwa pahlawan yang mau bertahan dan berkorban. Ibulah yang laki-laki.”

Aku percaya itu.

***

Di situlah aku. Terdampar di Sambe, Simeulue tengah, saat lulus menjadi pegawai pemda usai tamat SMA.

November 2002

Bumi berderak. Tanah berguncang. Angin berputar menghempas. Pohon-pohon tak merindangi sosok yang berlarian di bawah namun malah mencekik mereka. Rumah bukan lagi tempat tinggal yang sekejap beralih fungsi menjadi kuburan. Aku limbung. Aku baru saja memetik buah durian yang akan kuserahkan kepada warga kampung sebagai perayaan meugang menyambut datangnya bulan puasa. Suka cita berlalu berganti derita. Sempat kupikir jeritan anak-anak adalah kegirangan mendengar rebana mulai bertabuh. Tapi aku salah. Itu adalah jerit memilukan orang-orang yang berusaha mempertahankan napas mereka.

Aku lari. Sempoyongan. Terbentur-bentur. Kulindungi kepala menghindari reruntuhan rumah dan balok kayu. Satu yang melintas begitu cepat di dalam benak, aku harus menyelamatkan diri.

***

“Epidural haemotoma pada daerah paretal kiri,” jelas dokter di rumah sakit Pirngadi, Medan.

Aku tak tahu apa itu. Sejujurnya, aku tak peduli. Kami baru dievakuasi pada hari kelima karena jalur Simeulue-Banda Aceh terputus. Pelabuhan di Sinabang, Simeulue rusak berat, sebagian jalan Meulaboh-Banda Aceh retak dan longsor. Ibu setia menemaniku yang menderita patah tulang paha dan telapak kaki sekaligus beliau tak ragu ikut mengurus Amruddin, bocah dua belas tahun yang menderita perdarahan di kepala kirinya. Amru terbaring bersebelahan dengan ranjangku. Aku tak suka Ibu memperhatikannya sementara aku sendiri tengah kesusahan.

“Kenapa kamu, Yus?” gumam Ibu tajam. “Tak terpikir dalam otakmu siapa ayah dan ibu anak ini?” Aku meringis. Sekedar buang air kecil saja aku harus dibantu, apalagi...

“Bukan begitu, Mak,” sanggahku. “Aku juga prihatin melihatnya. Tapi kita bisa apa? Biarkan pemda atau pemerintah pusat yang menolongnya.”

“Jahat betul hatimu,” tuduh Ibu menghujam. “Kau seperti bapakmu. Biarkan orang lain yang menanggung, biarkan aku terbebas. Itu juga yang kamu lakukan saat terjadi gempa di Simeulue? Biarkan yang lain asalkan kau selamat?”

Kepalaku terlalu pening untuk berdebat. Aku hanya tak setuju Ibu menambahi beban hidup kami, beban hidupku, dengan seorang anak yang diperkirakan cacat mental karena kerusakan otak parah akibat benturan hebat.

***

Aku tak pernah menyukai Amru. Bagiku keberadaan Bang Edi dan Bang Rizal yang seperti benalu masih lebih baik daripada pemuda cacat sepertinya. Sekalipun Ibu dan adik bungsuku, Ali, senang berkawan dengan Amru. Tentu saja Ali suka. Seperti kembarannya, pikirku sengit, walaupun jarak usia Ali dan Amru jauh. Ali hanya dua tahun di bawahku sementara Amru masih bocah. Sesekali memang lidah cedal Amru dan matanya yang berputar-putar terasa lucu, di lain waktu aku ingin sekali menggencetnya karena ia selalu mengotori sarung dan sajadahku dengan pipisnya.

“Sabar!” Ibu mengingatkan. “Dia itu masih seperti anak kecil!”

Ibu masih menjadi juru masak PTP. Sekarang beliau tidak bekerja sendiri tapi memiliki dua asisten. Rupanya Pak Haji melihat ibu yang mulai tua harus dibantu, sementara keterampilannya memasak tak dapat diwariskan begitu saja. Orang enggan meninggalkan meja makan hingga selesai ketika mencicipi gule kepala kakap, sambal cabe hijau, dan daun ubi rebus masakan Ibu.

Peristiwa Simeulue 2002 berlalu bagai angin. Nangroe Aceh Darussalam rawan gempa. Lalu apa bedanya dengan Tokyo dan Bali yang juga bernasib serupa?

“Musibah di mana-mana ada, Yus,” nasihat Ibu. “Maut selalu mengintai kan? Tak peduli kau sedang tidur di atas ranjang. Makanya ibadahmu tuh diperkental. Kadang kau mirip Bang Edi dan Bang Ijal. Kau lebih berhasil, tapi ibadahmu sama saja. Tengoklah macam adikmu Ali sama Amru.”

Aku tersenyum masam.

Peristiwa dua tahun lalu menyebabkan aku tak mau kembali ke Simeulue. Ibu pun tak memaksaku kembali ke sana. Tinggal jauh di pulau di seberang lautan sering membuatku merasa sepi sendiri. Ingin kuajak Ibu saat aku bekerja di sana namun beliau merasa masih bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Bang Edi, Bang Rizal, Ali juga Amru. Terkadang aku sendiri tak habis pikir dari mana Ibu memperoleh rezeki untuk menghidupi semua anak-anak lelakinya termasuk Amru. Bahkan bagi Ibu sendiri, Amru sekarang adalah bagian dari hidupnya. Atas bencana yang terjadi di Simeulue beberapa waktu lalu, aku justru mendapat kemudahan untuk mutasi kerja ke daerah yang lebih ‘aman’ seperti Medan. Musibah itu justru membawa berkah bagi diriku.

***

Ali sekarang sudah dewasa. Tidak sepertiku yang sejak awal berambisi menjadi pegawai, Ali lebih ulet menjadi pedagang. Pengalaman hidup kami yang tertindas di perkebunan justru membuatnya jeli melihat pasaran.

Ia suka berdagang apapun mulai dari hasil bumi hingga kerajinan. Dari Aceh ia biasa membawa bertruk-truk kelapa, rambutan atau cengkeh. Setiba di sini ia akan mengangkut balik sunkist dan jeruk Medan yang terkenal. Di samping membawa hasil bumi, ia kerap membawa kerudung bordiran Aceh yang halus dan indah. Atau tas rajutan dan pernak pernik bersulamkan benang emas dan perak. Siapa lagi asistennya kalau bukan Amru.

“Apa kau tak ingin cari pembantu yang lebih pintar, Li?” Ali tersenyum.

“Dia itu polos dan bersih, Bang,” sahutnya. “Orang macam itu malah sering mengingatkan aku sholat bila adzan tiba, mengingatkan aku ‘tuk sedekah saat orang kesusahan.”

Aku hanya melirik sekilas pada Amru yang tak pernah jauh dari Ali, wajahnya yang polos dengan mulut selalu tertawa hingga liur kadang berceceran.

“Kapan Abang menengok kiosku di Banda Aceh?” ajaknya semangat. “Aku buka kios buah di Pasar Atjeh. Mirip kios buahku di Pajak Pringgan.”

Aku tersenyum. Tentu aku ingin mengunjunginya bila liburan tiba nanti. Cutiku tahun ini belum diambil lantaran tiap Lebaran aku memang tidak pergi ke mana-mana. Ibu sudah lama ingin pergi ke Aceh, kudengar Ali mengontrak sebuah rumah di daerah Ulee Lheue sebagai tempat peristirahatan bila ia sedang berada di Aceh.

“Kita ke sana ya, Yus,” Ibu memintaku mengantar beliau.

Kadang aku berpikir Ibu lebih menyayangi adik bungsuku karena ia lebih segala-galanya daripada aku. Memang ia hanya tamat SMA sepertiku, tapi lahan dagangnya mulai membuahkan hasil.

Pendapatannya sebulan jauh di atas penghasilanku. Bahkan Ali sudah berani mendaftarkan Ibu untuk naik haji tahun depan.

“Kau tuh punya prasangka buruk nian,” tegur Ibu yang melihatku sering menggerutu menghadapi Ali dan Amru. “Mereka berdua baik ibadahnya, baik perangainya. Pantaslah Tuhan membukakan pintu rezeki-Nya. Kaupun bisa begitu kalau mau sikit berubah. Nyatanya, bertahun hidup bersama Amru belum membuatmu makin dewasa bersikap.”

Aku hanya diam. Selalu begitu. Kata-kata Ibu menohok jantungku. Memang terkadang kupikir, kenapa rezeki yang diraih Ali lebih mudah daripada yang diperoleh tiga abangnya.

“Dia tuh benar-benar laki-laki, Yus,” Ibu tersenyum. Telingaku memerah. “Dia berani menanggung resiko. Memangnya memelihara Amru nggak ada dukanya? Waktu Ali belum berhasil dagangannya, dia sering mengalah makan demi Amru.”

Begitulah. Sekalipun batinku sering gondok melihat keberhasilan Ali, bagaimanapun ia tetap adik yang kusayangi. Ia lebih muda tapi lebih dewasa. Sewaktu masih kanak-kanak, aku lebih cengeng dibanding dirinya. Aku sering menangis bila ditinggal Ibu lembur memasak hingga larut saat perkebunan menghadapi kerja ekstra. Bang Edi dan Bang Ijal lebih suka membentakku untuk tutup mulut. Sebaliknya, Ali datang mendekap, mengatakan bahwa aku tak perlu sedih karena ia akan selalu menemani. Ali adalah saudaraku yang paling dekat, tapi sejak pindah ke Simeulue apalagi dengan hadirnya Amru, hubungan kami merenggang.

***

Desember 2004.

Aku menikmati perjalanan ini. Ibu terlihat begitu riang selama hari-harinya di Aceh mengunjungi kios buah Ali dan Amru. Batinku sendiri tersentuh melihat raut wajah bahagianya. Belasan, bahkan berpuluh tahun beliau harus berjuang tanpa sempat tersenyum. Tak pernah kudengar bibirnya mengeluhkan kepergian Ayah.

Bagiku sendiri, Ibu sudah cukup mewakili sosok kelembutan perempuan dan keperkasaan laki-laki. Sebagai bentuk pelayanan Ali pada kedatanganku dan Ibu, ia mengajak kami mengunjungi pantai indah Ulee Lheue. Bang Edi dan Bang Rizal tak ikut sementara Amru tampak girang tak kepalang. Berulang-ulang ia bertepuk tangan bergumam entah menyanyi atau berkumur, liurnya menetes satu-satu. Ibu melapnya dengan sabar, membuat kepalaku segera melengos. Suasana hatiku sedang baik maka aku tak berhasrat mendamprat Amru.

Aku tengah menikmati matahari, landai pantai berair jernih dan buih putih di kejauhan. Tawa riang anak-anak melempar piring terbang dan membangun istana pasir, secara aneh menghantarkan ingatanku pada Simeulue dua tahun lalu. Jerit lirih anak-anak terkadang membingungkan antara rasa gembira atau sakit. Mataku menyapu kaki langit yang bersih.

Matahari hangat sedikit tersaput awan. Cakrawala di batas pandang menampakkan buih tipis berkejaran. Lalu aku oleng sedikit saat mengambil piring terbang yang jatuh mengenai lutut. Seorang gadis kecil berambut ikal malu-malu meminta kembali mainannya. Barangkali aku cepat lapar oleh perjalanan wisata ini, otakku menjawab keheranan. Namun detak jantungku tak dapat berbohong. Kurasakan denyut normalnya berlipat seratus kali menggenjot darah. Aku tertegun menatap tepi pantai yang airnya menyusut tiba-tiba ke arah tengah. Kupikir mataku terkelabui fatamorgana. Setiap orang mematung seperti diriku selama beberapa waktu saat gerakan pada tanah yang dipijak mulai memperdengarkan suara gemuruh. Awalnya pikiranku bekerja bahwa ini adalah peristiwa yang sama seperti dua tahun lalu di Simeulue. Menjauhi bangunan, daerah perapian, pepohonan besar, adalah langkah teraman ketika gempa tiba-tiba merangsek.

Tapi leherku membeton seketika. Air yang menyusut meresap ke tanah pasir tiba-tiba berbalik menampakkan buih bergulung di kejauhan. Itu bukan gelombang ombak yang disukai peselancar. Itu adalah buih ombak yang membuat beribu orang di Ulee Lheue mulai bergerak mendaki tepian pantai.

“Air….!! Lariiiii….!!”

Otak dan perasaanku belum terjaga namun kakiku sudah lebih dulu bekerja. Aku berlari sekuat tenaga menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Sembari terengah dengan napas terputus kurogoh kunci di saku celana. Aku menoleh ke belakang, Ali berlari sekuat tenaga menarik lengan Ibu dan Amru yang sama takut dan paniknya seperti diriku. Jarak mobil beberapa tahap lagi dari langkah kaki. Harapan dan keputusasaan bergolak memenuhi tiap saluran sel darahku, beserta doa yang entah kenapa mulai muncul satu-satu di ujung lidah.

Harapanku merekah selapis tipis, saat secepat mungkin kumasukkan kunci pintu kemudi lalu memutarnya. Aku menoleh sekali lagi. Keheranan sedetik merajai, mencari di mana Ali membawa Ibu dan Amru menyelamatkan diri. Saat itulah aku mulai melihat bahwa buih ombak selarik yang tadi sejauh pandangan mata, sekarang berada tepat di belakangku. Sekarang ombak itu tidak hanya setinggi ruas jari, tapi belasan meter menjulang menggulung di belakang punggung.

***

Tuhan.
Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku bukan Kan’aan yang mendurhakai Nuh, nabi-Mu. Aku bukan laki-laki seperti yang diharapkan Ibu tapi aku sangat ingin selamat dari peristiwa ini. Tubuhku terhempas ke dasar lautan, bergasing membentur batuan karang dan kepala orang yang juga terseret. Perutku menggelembung, paru-paruku sebentar lagi pecah. Mataku mulai kehilangan daya penglihatan sementara lidahku tak mampu berdoa karena suapan air tak henti-henti menerjang kerongkongan. Detik selanjutnya satu dorongan kuat menyorong punggungku naik ke permukaan, membuat wajahku sejenak melihat matahari yang tetap tenang bersinar. Aku menggelegak memuntahkan air, luar biasa perih dan nyeri merajam lubang hidung hingga duburku. Sepersekian detik cahaya matahari membuatku kembali berharap tapi gulungan ombak yang lain merangkulku menuju dasar samudera kembali. Aku meluncur tertelungkup menuju daratan pasir di bawah yang sedang bergeser untuk memantapkan lempengan kerak bumi. Tekanan air berton-ton menggodam tempurung kepala dan tulang punggung. Kurasakan butiran pasir menyemai di ujung jemari, pasir yang mengotori hidung dan masuk ke dalam kelopak mata. Anyir darah dan asin air laut bercampur aduk. Bumi menghamba pada kemarahan.

Sekalipun terpejam dapat kurasakan benturan berkali-kali pada benda lembut dan mengejang yang kuterka sama seperti diriku, manusia yang mulai menjemput ajal dan menghitung dosa. Ya Allah, betapa sengsaranya akhir semua ini. Akankah aku merasakan sakit hingga akhir nanti? Berapa lama sakaratul maut berjalan? Ya Rabbi, beri kesempatan aku sekali lagi setelah Simeulue dua tahun yang lalu untuk memperbaiki diri. Aku benar-benar akan menjadi sebenar laki-laki yang bertanggung jawab pada kehidupanku.

Air memusar membawaku ke suatu negeri tak bertuan. Negeri tanpa rasa, tanpa waktu, tanpa tempat. Sempat aku menduga nyawa sudah tercerabut dari raga ketika satu hantaman dahsyat membuat igaku seperti rontok satu-satu. Tanganku terulur tanpa arah. Rasa sakit seperti ini membuatku sedikit berpikir bahwa napasku masih di bumi. Suatu benda bergagang kokoh dengan serabut memanjang nyaris lewat dari pinggangku, untung jemariku yang sudah kaku menggenggam sekuat tenaga. Kalau aku harus mati, bisikku, aku mau mati seperti laki-laki yang sudah berjuang.

Kudekap erat batang yang ternyata sebentuk pohon kelapa. Meski aku sendiri tak yakin sampai kapan pohon ini tegak berdiri di tengah gelombang tsunami. Pusaran ombak mulai mengendurkan cengkeraman. Perlahan kesadaran memasuki wilayah sel otakku sedikit demi sedikit. Sekalipun gulungan ombak masih susul menyusul datang, gerakannya tidak segila tadi. Mataku berusaha terbuka meski luar biasa sakit. Tak kukendorkan sedikitpun pegangan sebab harapan untuk selamat masih sangat kecil. Lambungku tak mampu menanggung air, aku muntah-mutah tanpa kendali hingga nyaris terlepas dari pohon kelapa saat ombak besar menghantam kembali.

Kepalaku mencoba menoleh berkeliling. Beberapa kepala turun naik ke permukaan, onggokan manusia menggelepar berserak. Arus makin deras masuk menuju wilayah kota Banda Aceh. Kucari-cari sosok Ibu, Ali, dan Amru. Aku mulai menangis dan berteriak-teriak, sama seperti dahulu ketika masih kanak-kanak. Bedanya, sekarang tak lagi ada Ali yang mendekap menghiburku.

***

Kutemukan Amru terdampar di tepi aliran sungai yang dipenuhi onggokan kayu dan batu. Tsunami tak menyisakan bangunan permanen berdiri kecuali beberapa bangunan seperti Masjid Raya dan makan Sultan Malikussaleh. Tak menyisakan orang-orang yang masih dapat tertawa. Segalanya berubah hanya dalam hitungan menit. Aku menangis dan menangis lalu menangis lagi hingga lapar dan haus mengalahkan kepedihan. Amru masih hidup saat memeluk erat Ali dan Ibu yang sudah menggelembung tak bernyawa. Betapa aku membencinya, mengapa justru dia yang masih bertahan sementara orang yang kucintai pergi begitu saja? Aku menjauh meninggalkannya. Sekarang aku tak merasa perlu harus merawatnya. Pasti ada orang lain yang bertemu Amru lalu mengajaknya untuk menjalani hidup lebih baik. Tapi aku bertemu dan bertemu lagi dengan Amru.

Saat evakuasi mayat, evakuasi korban, pembagian mie kardus dan makanan, pembagian pakaian dan jatah air. Ia selalu di sana, tampil lebih dulu dan tak latah berebut. Tentu saja, batinku sengit dan putus asa, orang tidak waras lebih kuat badannya. Tapi kalau tidak waras, kenapa Amru yang lebih dulu mengambil shaf berjamaah saat waktu shalat tiba? Kenapa ia masih ingat memberi makan orang lain saat kutahu perutnya sendiri tak berisi apapun kecuali angin?

Ia mendatangiku suatu siang yang terik, di tengah bau busuk mayat bergelimpangan dan sedikitnya pasokan air. Aku nyaris gila oleh semua ini.

“Ini, Bang,” ia berlari terseok menemuiku yang sudah bersiap menghindarinya. “Amru bawa air dan kaos.”

Untuk waktu ini kebencianku padanya benar-benar luluh lantak. Kupandang wajahnya yang polos berlumpur dengan rambut kemerahan berminyak dan bau.

“Buat kau sendiri?”

“Nantilah, tak apa.”

Aku termangu. “Kenapa kau begini padaku?” aku berbisik.

“Kata Ibu, aku ni laki-laki. Harus jadi laki-laki dan mati nanti juga laki-laki. Laki-laki tuh berani dan bertanggung jawab.”

Aku menelan ludah kering. Sosoknya berlalu secepat angin. Aku terseok melangkah, memungut apa yang masih tersisa di antara sisa-sisa kehidupan. Sendok, gelas, uang logam, kumasukkan dalam buntalan kain. Kepalaku tertegak mendengar suara-suara teriakan komando. Di sana personil angkatan darat dan para sukarelawan bahu membahu. Amru berdiri di antara mereka. Tubuh kurusnya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis mengingatkan aku pada sosok Ibu. Tanpa terasa airmataku menetes lagi.

Cuma laki-laki perkasa yang dapat selamat dari badai kehidupan seberapapun besarnya. Bertahun lalu Amru selamat dari Simeulue, sekarangpun ia selamat lagi. Kupikir, semangatnyalah yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang walau kenyataan begitu pahit tertelan. Aku memasukkan beberapa koin logam yang kutemui sepanjang jalan. Kupanggul ke bahu buntalan tak seberapa yang menjadi temanku. Setiap barang yang masih utuh menjadi harta sangat berharga bagi kami, para korban. Aku tak tahu apakah Bang Edi dan Bang Rizal akan bersusah payah menjemputku. Jarak Banda Aceh dan Medan yang selama ini teratur rapi, kini hancur tanpa kepastian kapan akan diperbaiki.

Aku belum dapat pulang mengingat alat angkut tidak tersedia, segala sarana sementara diperuntukkan bagi korban. Sekali lagi aku memandang Amru yang tengah menggotong bongkahan kayu besar. Mataku nanar. Kelelakiannya membuat harga diriku terpasung. Rasa malu lebih menghimpit kini daripada rasa sakit. Betapa rendah aku yang selalu berpikir tentang diriku sendiri. Jepang berhasil membangun impian mereka kembali hanya dalam waktu beberapa bulan usai gempa yang menghancurkan.

Apakah manusia harus kalah oleh alam hingga alam yang mengusainya, bukan manusia itu sendiri? Kepedihanku tak terjabar, kelaparanku tak tergambar, rasa kehilangan ini tak tergantikan. Sesudah ini aku pasti melewati malam-malam dengan kenangan tentang gulungan air dan mayat-mayat bergelimpangan. Namun, dengan segala keberanian sebagai laki-laki, aku akan kembali membangun hidup dan menyusun kepingan harapan.

(BungaRampai11)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==