Kategori

Bahagiakanlah Mereka

By On Oktober 22, 2011


“Pak Jeje sakit”. Itu jawaban yang kudapatkan ketika sampai jam 9 pagi belum kudapati segelas air di mejaku. Sakit? Pak Jeje? Hanya satu kata yang terbersit dalam pikiranku. Kasihan sekali. Siapa yang merawatnya jika beliau sedang sakit? Bukankah di Jakarta ini beliau hanya tinggal sendiri?

Pertama kali kulihat Pak Jeje akhir tahun 2003 yang lalu, aku langsung teringat pada kakekku. Mirip sekali. Rambutnya yang memutih, badannya yang mulai renta dan tidak bisa berjalan tegak lagi. Ada satu yang membedakannya, kakekku selalu dikelilingi oleh 12 cucunya, di kala sehat dan sakit. Kuteringat sewaktu kakekku dirawat di rumah sakit, kami selalu meluangkan waktu untuk berkumpul, menemaninya dan membuatnya merasa kaya dengan keberadaan kami semua. Berangsur-angsur kembali kami temukan keceriaan di wajahnya ketika kami bercanda di dekatnya.

Kini, kakekku telah tiada. Beliau meninggal di usia 74 tahun, meninggalkan kami, 12 orang cucunya. Ada penyesalan yang hinggap dalam dada kami, manakala ada keinginan beliau yang belum sempat kami wujudkan. Tetapi apakah menyesali keadaan yang telah terjadi merupakan sebuah solusi? Astaghfirullahal'azhim ... Sungguh tidak pantas rasanya kami menyesal, karena kematian itu mutlak ada di tangan Allah. Hal yang bisa kulakukan sekarang ini adalah dengan berbuat baik dan berusaha untuk membahagiakan kakek-nenek yang masih ada.

Masih ada dua orang nenek dan satu orang kakek yang kupunya, walaupun mereka semua bukan asli orang tua bapak dan ibuku. Tak adil rasanya jika aku mengkambinghitamkan jarak Jakarta-Kudus yang membuat kami jauh. Walaupun jauh di mata tetapi ada kedekatan dalam hati kami. Perlahan aku melihat mereka beranjak renta dan tua. Rasa sedih selalu menjalar di hatiku manakala aku bertemu mereka saat pulang ke kampung halaman. Ketika kucium punggung tangan mereka, kurasakan ada sentuhan lembut hinggap di kepalaku yang beriringan dengan lantunan doa.

Aku ingin membuat mereka bahagia di sisa usianya. Hanya beberapa kali dalam satu tahun aku bisa berkunjung ke rumah mereka. Aku ingin melihat binar kegembiraan yang pernah kudapati pada kakekku melihat keberhasilan sekolahku. "Semoga ilmumu bermanfaat, nduk”. Kalimat itu selalu terdengar manakala aku berpamitan kepada mereka. Ternyata mereka selalu mendoakanku. Berulang kali kuingat pesan-pesan mereka manakala kelelahan kembali menyergap.

“Bude sekarang sholat sambil duduk, nduk”. Deg, aku terkejut manakala mendengar cerita itu dari salah seorang bude ketika aku berkunjung ke rumahnya. Ternyata tidak hanya kakek nenekku yang beranjak renta. Orang-orang di sekelilingku, bude, pakde, bapak, ibu, semua sudah beranjak tua. Rambut putih yang mulai muncul di sela-sela rambut hitam, keriput yang mulai bermunculan, kondisi fisik yang sudah tidak seenergik dahulu, dan berbagai tanda yang lain.

Ternyata semua beranjak tua. Kutanya diriku sendiri, sudahkah aku membuat mereka bahagia? Sudahkah aku memenuhi apa keinginan mereka? Kembali kuingat satu per satu pesan mereka. Pesan yang selalu kudapatkan manakala aku pulang dan berkunjung ke rumah mereka,

“Semoga berhasil dunia akhirat, nduk. Semoga mahasiswamu jadi pintar,”
“Moga-moga cepet ketemu jodoh, Nis. Bude sudah pengen rewang untuk acara walimahmu,”
“Tetap silaturahmi setiap kali pulang ke Kudus ya. Semoga rejekimu lancar biar bisa sering pulang,”

Banyak sekali pesan yang kudapatkan dari mereka. Banyak juga yang belum kuwujudkan untuk membuat mereka bahagia. Satu yang selalu kuingat, wajah gembira mereka ketika aku datang dan meluangkan waktu untuk menanyakan kabar dan mendengar cerita mereka. Terkadang, egoisme pribadi kita perlu sejenak digeser untuk membuat mereka bahagia. Sebenarnya, sangat mudah membuat mereka bahagia. Berusaha untuk mewujudkan keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Kurasa itu hal termudah yang bisa kita lakukan. Duduk sejenak sambil mendengarkan kabar mereka, memijat kakinya atau sekedar menemaninya memasak, kurasa bukan hal yang akan memberatkan kita.

Jangan menunggu mereka renta untuk menyadari bahwa kita belum sempat membahagiakan mereka. Karena itulah, tidak ada kata terlambat. Mulailah untuk membahagiakan mereka. Wujudkan keinginan mereka dan teruslah berdoa untuk kebahagiaan mereka dunia akhirat! Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan berilah kebahagiaan bagi kami dunia akhirat. Berilah kemampuan padaku untuk dapat membuat mereka bahagia. Amin.

Jakarta, 12 April 2005
Anisa Kuffa 


(Bungarampai11)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==