Kategori

Ketika Hujan Turun Lagi

By On Juli 01, 2011

 Musim hujan datang lagi. Entah itu pagi, siang, sore ataupun malam, air dari langit itu seolah tanpa bosan mengunjungi bumi. Seperti sore ini, tanah di halaman depan sudah tergenang air meski hujan tidak terlalu deras. Di balik jendela kamar, anak-anak kecil berlarian sambil bersorak riang. Ada yang bermain kapal-kapalan, ada yang menunggu kucuran air di bawah atap rumah, dan ada pula yang berdiri manis di bawah payung sambil memperhatikan teman-temannya bermain. Mereka tampak bergembira. Tak ada yang mereka khawatirkan. Bahkan, mereka sepertinya tidak takut terserang flu atau demam. Bahagia sekali kelihatannya.

Saya jadi teringat akan masa kanak-kanak saya. Waktu itu, saya sangat menyenangi musim hujan karena pada saat-saat itulah saya merasa sangat dekat dengan ibunda. Bagaimana tidak, di saat udara begitu dingin menusuk tulang, tidak ada lagi kenyamanan yang saya rasakan selain membenamkan diri dalam hangatnya pelukan ibunda. Terlebih lagi jika suara petir tiba-tiba menggelegar memecah keheningan angkasa, pelukan ibu saya makin erat seolah meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan saya akan aman bersama beliau. Otak kanak-kanak saya menerjemahkan saat-saat seperti itulah yang disebut kebahagiaan.

Dan kebahagiaan mungkin juga menjadi milik para tukang ojek payung sore ini. Tukang ojek yang sebagian besar masih berusia belia ini memburu orang-orang yang tidak sempat menyediakan payung sebelum hujan. Bermodalkan beberapa buah payung, mereka dapat mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit untuk menambah pemasukan keluarganya.

Sebaliknya, musim hujan tidak begitu menguntungkan bagi penjual es krim yang berlalu lalang di kompleks perumahan ini. Temperatur udara yang rendah membuat selera pelanggannya lebih condong pada makanan dan minuman yang panas untuk menghangatkan badan. Tak jarang penjual es krim itu 'tutup' dulu sementara waktu atau mencari alternatif barang dagangan lain.

Hujan ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi hujan menjadi berkah bagi beberapa dari kita, tapi di sisi lain hujan bisa saja dianggap sebagai hal yang kurang menyenangkan oleh saudara-saudara kita yang lain.

O, iya. Tadi pagi saya membaca berita di koran tentang bencana banjir yang melanda sebuah daerah di tanah air. Guyuran air dari langit yang tanpa henti membuat sungai yang mengalir di tengah kota itu tak kuasa lagi menampung muatan. Beberapa kepala keluarga harus membawa anak dan istrinya ke tempat yang lebih aman. Murid-murid di beberapa sekolah terpaksa diliburkan karena ruang kelas mereka digenangi air hingga selutut manusia dewasa. Selain kota tersebut, masih ada beberapa kota lagi yang didatangi banjir.

Lalu bagaimana kabar mereka yang berada di ujung utara tanah Andalas saat ini? Tak akan hilang dalam ingatan kita bagaimana dahsyatnya kesedihan menghempaskan penduduk Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara akhir tahun lalu. Daratan luluh lantak akibat goncangan gempa tektonik dan serbuan gelombang besar dari samudera. Banyak sekali anak yang menjadi yatim piatu dalam sekejap mata. Istri terpisah dari suaminya. Pemukiman porak-poranda. Murid-murid kehilangan guru dan sekolahnya. Betapa memilukan! Air mata karena tsunami belumlah kering sempurna, sekarang mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan buruk akibat musim hujan. Banjir mulai mengancam beberapa daerah topografi rendah. Penyakit menular juga sudah menjangkiti kamp-kamp pengungsi. Ya Rabbi, tabahkanlah mereka!

Apakah kita pernah berpikir bahwa Allah berlaku tidak adil karena tega menimpakan musibah besar pada sebagian ummat-Nya, bahkan kepada mereka yang sudah terpuruk sekalipun? Tidak. Jangan sekali-kali berpikir seperti itu! Dia selalu Maha Adil pada ciptaan-Nya. Dia menyayangi ummat-Nya jauh melebihi seorang ibu yang menyayangi anaknya. Ketahuilah, Rasulullah yang sangat dicintai-Nya pun tidak kalah menderita menjalani hidup. Sebelum lahir ke dunia, ayah beliau wafat. Pada masa kanak-kanak, beliau harus kehilangan ibunda dan kakek yang tercinta. Sejak kecil beliau sudah mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini belum berakhir! Masih banyak episode selanjutnya yang diwarnai oleh kesedihan dan penderitaan.

Kita mungkin membenci sesuatu padahal itu sebenarnya baik untuk kita, sebaliknya kita juga mungkin menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk bagi kita. Berprasangka baiklah pada Allah. Apa yang kita peroleh sekarang adalah hal terbaik yang diberikan-Nya sampai saat ini. Percayalah, Allah Maha Mengetahui skenario yang terbaik untuk kita, tak terkecuali saudara-saudara kita yang tertimpa musibah itu.

Teman, ketika hujan turun, adalah suatu hal yang manusiawi jika kita membayangkan nikmatnya semangkok bakso atau segelas minuman hangat. Tapi pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa di suatu tempat dan pada saat yang sama, ada anak Adam yang tidak sanggup lagi memikirkan apapun? Tak satupun kecuali bertahan hidup!

Lihatlah, di negeri seribu satu malam, penderitaan seperti tak kunjung berakhir. Serangan bom mengancam di mana-mana. Mesjid-mesjid tinggal puing. Nyaris semua bangunan rata dengan tanah. Keselamatan jiwa raga penduduknya juga tergadaikan. Duka seakan tak pernah hilang menyelimuti hari-hari mereka.

Saksikanlah, tak hanya orang dewasa, anak-anak Palestina pun harus bermain kucing-kucingan dengan desingan peluru dan senjata-senjata canggih. Dan bukan kabar baru lagi bahwa mereka ikut meramaikan gerakan Intifadhah sejak jilid Al Hijaroh sampai jilid Al Aqsho ini.

Ah, tulisan ini tak akan ada habisnya jika disebutkan satu persatu keadaan mereka yang berada di Bosnia, Chechnya, Sudan, Afganistan, Kashmir, Thailand Selatan, Poso, Alor, Nabire, dan tempat-tempat lainnya.

Di sini, kita mungkin berbahagia. Di tempat lain, ada saudara kita yang mendambakan kebahagiaan, namun tak mampu merasakannya. Allah bukannya tidak ada maksud dengan memperlihatkan musibah yang menimpa mereka itu kepada kita. Sadarilah bahwa Allah sebenarnya mengirimkan sebuah pesan bahwa kebahagiaan mereka akan datang salah satunya melalui kita, saudara-saudaranya. Tidakkah kita ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain? Tidakkah kita menginginkan kesempurnaan iman?

Rasulullah pernah menegaskan, "Tidaklah (sempurna) iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekarang juga, bukalah jendela hati kita. Lihatlah di luar sana, Allah masih menyisakan ladang amal yang belum digarap. Banyak sekali...

Allahu 'alam bish-showab,

***

Sri Susanti

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==