Kategori

Waspadalah !! Inilah 5 Gejala Ketidaksuburan Yang Paling sering diabaikan oleh Kaum Wanita!

By On Mei 07, 2020

Hamil dan memiliki keturunan adalah kodrat tiap wanita. Demi mewujudkannya, kebanyakan wanita penasaran pada masa subur dirinya. Pembuahan yang terjadi pada masa subur (ovulasi) diharapkan bisa menghasilkan keturunan sesuai harapan.



Masa subur, kata ahli kandungan dan kehamilan, Ahmad Mediana, adalah saat indung telur (ovarium) melepaskan sel telur (ovum) yang sudah siap dibuahi ke dalam saluran indung telur (tuba falopi). Bila sel telur berhasil bertemu sp3*rma dan mengalami pembuahan, maka pasangan tersebut berkesempatan memperoleh buah hati.

Sahabat medianda aturannya, kalau usia Mama di bawah 35 tahun dan sudah berusaha hamil selama setahun, Mama harus mulai menjalani terapi kesuburan. Tetapi jika Mama mengalami gejala kemandulan ini, Mama tidak boleh menunggu terlalu lama. Karena, gejala infertilitas ini tidak boleh diabaikan jika Mama berniat agar cepat hamil. Selain bisa mengetahui apa penyebab sulit hamil, dokter juga bisa mengetahui apakah ada problem lain yang perlu ditangani. Untungnya, kemandulan atau ketidaksuburan bisa ditangani dengan pengobatan, atau pembedahan, sehingga Mama bisa cepat hamil.

Sahabat medianda berikut gejala kemandulan yang tak boleh diabaikan:

1. Tidak mens

Setelah lepas KB, biasanya tubuh butuh waktu beberapa bulan untuk mengatur kembali siklus m3nstru4si. Tetapi kalau Mama tidak mens lagi sampai tiga bulan, coba periksakan pada dokter. "Tidak mens berarti perempuan itu tidak berovulasi, dan hanya punya sedikit peluang untuk melakukan pembuahan tanpa bantuan," kata Dr. Lorna Marshall, ahli endokrinologi reproduksi di Pacific NW Fertility di Seattle.

Dokter biasanya akan mengupayakan perawatan lebih awal untuk menstimulasi ovulasi. Misalnya dengan konsumsi pil harian yang disebut Clomid (untuk menstimulasi ovulasi). Jika tidak berhasil, langkah berikutnya adalah menggunakan obat penyubur injeksi, inseminasi, dan terakhir in-vitro fertilization atau bayi tabung.

2. Haid tidak teratur

Jika jadwal mens tidak teratur, Mama tidak akan tahu kapan atau apakah Mama sedang berovulasi. "Siklus mens yang datangnya sporadis merupakan indikasi dari suatu kelainan ovulasi yang mendasar, yang membuat pembuahan jadi sulit," papar Dr. Sheeva Talebian, ahli endokrinologi reproduksi di Reproductive Medicine Associates of New York. Penyebabnya mirip dengan berhentinya siklus m3nstru4si: sindrom ovarium polikistik, kelainan tiroid, dan hypothalamic amenorrhea (berhentinya mens akibat terlalu banyak olahraga dan kurang makan). Haid yang tidak teratur juga merupakan tanda berkurangnya cadangan ovarium karena endometriosis atau kegagalan ovarium awal.

3. Perdarahan di sela-sela siklus mens

Seharusnya Mama hanya mengalami perdarahan ketika sedang mens. Namun menurut Dr. Talebian, perdarahan di sela-sela jadwal mens atau setelah berhu*bu*ngan s3k*s bisa mengindikasikan suatu polip rahim atau fibroid, atau perlukaan pada servik. Selain membuat Mama sulit hamil, perdarahan perlu diperiksakan ke dokter untuk mengetahui apakah ada hu*bu*ngannya dengan kanker.

4. Volume darah mens sangat deras

Jika Mama bisa menghabiskan lebih dari satu pembalut dalam satu jam selama beberapa jam, mengeluarkan gumpalan darah yang besar, atau mengalami perdarahan selama lebih dari tujuh hari, berarti haid Mama tergolong berat. Dan, hal ini bisa merupakan tanda fibroid rahim, demikian menurut Dr. Marcy F. Maguire, ahli endokrinologi reproduksi di Reproductive Medicine Associates of New Jersey. "Mens yang deras juga berkaitan dengan kelainan perdarahan tertentu atau keabnormalan endokrin," katanya. Fibroid bisa menyusut atau dioperasi jika menghambat kehamilan, sedangkan kelainan darah bisa ditangani dengan pengobatan.

5. Nyeri panggul

Kram yang sangat parah saat m3nstru4si, nyeri sepanjang siklus mens terjadi atau setelah berhu*bu*ngan s3k*s, bisa jadi merupakan gejala endometriosis. "Dengan endometriosis, jaringan yang seharusnya menghubungkan rongga rahim ditemukan di luar rahim di dalam panggul," kata Dr. Maguire. Endometriosis bisa menyebabkan jaringan parut pada struktur panggul, mengurangi kesuburan, dan meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Bahkan, endometriosis bisa mengurangi cadangan sel telur, sehingga dokter umumnya akan menyarankan perawatan kesuburan.

Nyeri panggul yang diikuti demam dan keluarnya cairan dari vagina yang tidak normal merupakan salah satu gejala infeksi, yang juga bisa memicu jaringan parut. Infeksi panggul bisa meningkatkan risiko penyumbatan tuba falopi, jelas Dr. Marshall. Untuk itu Mama sebaiknya menjalani pemeriksaan untuk melihat apakah saluran indung telur tidak tersumbat, begitu Mama dan Papa mulai menjalani program hamil.

Itulah gejala kemandulan yang tak boleh diabaikan. Segera periksakan ke dokter jika Mama mengalami salah satu atau beberapa dari gejala di atas.


Semoga bermanfaat.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==