Kategori

INGAT..ISTRI ITU DISAYANGI BUKAN DI ADILI!!!!!

By On September 03, 2016

Medianda – Sahabat media Seorang istri hanyalah manusia biasa. Pasti mempunyai kekurangan. Di samping juga mempunyai kelebihan. Oleh sebab itu, terimalah dia apa adanya. Sayangi dia. Sayangi kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan mereka bukan untuk diadili, tapi untuk difahami. Kekurangan mereka memang dari sononya. Dari sang pencipta.



Menjalani mahligai rumah tangga memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Tidak segampang yang kita bayangkan. Menjalani rumah tangga bagai mengarungi laut lepas. Berombak besar. Berangin kencang. Kapal terombang-ambing. Tidak heran, bila kemudian dibumbui pertengkaran, adu mulut bahkan sampai “perkelahian”. Dalam perkelahian rumah tangga, bisa dipastikan yang menjadi pemenang ialah suami. Istri yang memang mempunyai tubuh tidak seperkasa suami sering menjadi korban. Istri babak belur. Tubuhnya penuh dengan warna hitam legam.

Apabila hal itu terjadi, pihak yang paling berhak disalahkan ialah suami. Meski istri juga berperan dalam terjadinya pertengkaran itu. Karena, suami adalah merupakan nahkoda kapal rumah tangga. Keselamatan rumah tangga sangat bergantung kepada kepiawaian suami. Sahabat medianda bila suami orang yang bijak, pertengkaran pasti bisa dihindari. Memang, dalam Islam ada sikap tertentu yang harus dilakukan suami ketika istri nusyuz. Termasuk memukul dalam rangka mendidik. Namun, pukulan itu tidak sampai menyakiti (mubarrih). Apabila pukulan itu sampai menyebabkan legam dan warna hitam di kulit, berarti sudah keluar dari tuntunan syariat.

Hal paling utama yang harus dipahami suami ialah istri itu manusia biasa. Pasti banyak salah dan dosa. Dalam budi pekerti pun pasti banyak kekurangannya. Bahkan dalam banyak Hadistt, wanita diumpamakan tulang rusuk yang bengkok. Artinya, wanita itu pasti mempunyai perilaku yang tidak baik. Perilaku yang tidak disukai suami. Akan tetapi, hal itu bukan berarti seorang suami bebas mengadili istri. Mentang-mentang istri orang yang “kurang ajar”, suami boleh menghajar. Mentang-mentang istri mempunyai sifat buruk, suami boleh mengepruk. Tidak. Dalam konteks ini, yang dikedepankan adalah kasih sayang. Bukankah “kebengkokan” istri sudah menjadi sunnatullah? Penulis yakin, semua istri ingin menjadi istri yang baik. Tapi, mereka mempunyai “penyakit bawaan” yang pasti hadir dalam kehidupan mereka. Sehingga keinginan itu tidak sepenuhnya tercapai.

Oleh sebab itu, marilah kita renungi Hadist berikut. “Sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk. Tidak akan lurus bagimu pada suatu jalan (yang kamu inginkan). Bila kau bersenang-senang dengannya, dan dia tetap bengkok. Bila kau bangkit untuk meluruskannya, kau akan memecahkannya. Dan, memecahkannya adalah menelaknya.” (HR. Imam Muslim) Mengomentari Hadist tersebut, Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya, Syarh an-Nawawî ‘Alâ Muslim, bahwa Hadist ini mendorong agar menyayangi istri, lemah lembut padanya, berbuat baik kepadanya, sabar atas perilaku bengkoknya, menerima kelemahan akalanya, tidak menceraikannya tanpa sebab, dan tidak agresif untuk memperbaikinya. Gampangnya, harus ekstra hati-hati menghadapi kebengkokan istri. Harus dihadapi dengan kasih sayang yang mendalam.

Hadist berikut juga senada dengan Hadist di atas. Rasulullah bersabda, “Perlakukanlah wanita dengan baik, sebab mereka dijadikan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya paling bengkoknya sesuatu di tulang rusuk itu yang paling atas. Bila kau ingin meluruskannya, kau akan memecahannya. Bila kau membiarkannya, dia akan terus bengkok. Maka perlakukanlah wanita itu dengan baik.” (HR. Imam Bukhari).

Dalam Hadist ini Rasulullah menginformasikan bahwa perempuan itu bengkok. Mempunyai perilaku buruk. Namun bukan masalah itu yang menjadi pembahasan utama. Yang lebih ditekankan ialah bagaimana suami menghadapinya. Yaitu, dengan memperlakukan perempuan dengan baik, menyayangi mereka, dan berusaha memperbaiki mereka sedikit demi sedikit. Imam Muhammad Ali bin Muhammad bin ‘Allan as-Syafi’i, dalam kitabnya, Dalil al-Falihin, mengatakan ketika mengomentari Hadist tersebut bahwa suami tidak boleh membiarkan istri tidak baik. Suami harus memperbaikinya, tapi dengan cara yang lembut, dengan kasih sayang, dan pelan-pelan. Sehingga tidak menyebabkan masalah yang lebih besar, seperti pertengkaran hebat dan perceraian.

Selain itu, Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Orang laki-laki mu’min tidak (boleh) benci pada perempuan mu’min. (Sebab,) bila dia menbenci suatu budi pekerti darinya, dia juga menyukai budi perkerti yang lain.” (HR. Imam Muslim) Imam Nawawi mengatakan bahwa Hadist ini merupakan larangan pada suami. Larangan agar tidak membenci istri sebab mempunyai akhlak yang tidak baik. Karena, selain mempunyai akhlak jelek, istri pasti mempunyai akhlak yang baik. Dengan demikian, seharusnya suami tidak hanya menghitung-hitung kejelekan istri, akan tetapi juga kebaikannya. Tidak hanya menilai kekurangannya, tapi juga kelebihannya. Terimalah perilaku baiknya. Terima pulalah perilaku jeleknya.

Kalau kita melihat sejarah, hal serupa juga terjadi pada Nabi Ibrahim. Suatu ketika beliau mengadu kepada Allah swt.. Beliau bermunajat bahwa istri beliau, Sarah mempunyai suatu akhlak yang kurang baik. Allah swt. pun menjawabnya, “Sesungguhnya, perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika kau biarkan, kau membirakannya bengkok. Jika kau meluruskannya, kau akan mematahkannya. Maka, terimalah apa adanya.”

Nah sahabat medianda itulah penjelasan mengenai istri itu disayangi bukan diadili, dengan ilmu diatas dapat ditarik kesimpulan dan ilmunya bahwa istri hanyalah manusia biasa pasti mempunyai kekurangan. NAmun ingat disamping kekurang seorang istri juga mempunyai kelebihan. Oelh sebab itu terima ia apa adanya, sayangi dia dari kekurangan dan kelebihannya. Kekurangan sang istri bukan untuk diadili namun untuk di fahami. Semoga informasi di atas bermanfaat bagi semua dan semoga rumah tangga anda semua dijadikan rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah. Aamiin





Sumber: Dakwatuna.com

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==