Kategori

Mana yang Benar? Nenek Moyang Manusia, Kera atau Nabi Adam?

By On Mei 10, 2021


 

Sebenarnya Manusia Keturunan Monyet Atau Nabi Adam? Inilah Penjelasannya.


Persoalan tentang siapa sebenarnya nenek moyang dari manusia tidak pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Baik para penganut Teori Darwin maupun para penganut agama samawi, keduanya memiliki argumen masing-masing.


Sebagaimana diketahui, terkait asal usul manusia ada dua teori yang paling banyak dianut oleh umat manusia. Yaitu teori evolusi yang digagas oleh Charles Darwin, dan teori tentang penciptaan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang dipercaya oleh penganut agama samawi khususnya agama Islam.


Oke mari kita lanjutkan, tentang asal usul nenek moyang bangsa Indonesia.

Nenek moyang masyarakat Indonesia adalah bangsa pendatang yang berasal dari wilayah Asia yang bermigrasi. Berbicara mengenai asal usul nenek moyang dari bangsa indonesia merupakan salah satu bagian yang cukup unik.


Pernah ngga kalian bertanya-tanya, dari mana asalnya orang-orang yang mendiami ribuan pulau di Indonesia? Kapankah nenek moyang kita pertama kali berada di Indonesia? Bagaimana asal usul nenek moyang bangsa indonesia? Dan apakah nenek moyang manusia adalah kera?


Leluhur atau nenek moyang merupakan nama yang normalnya dikaitkan pada orang tua maupun orang tua leluhur (seperti kakek nenek, dan canggah). Seperti yang kita ketahui setiap bangsa memiliki leluhur atau nenek moyang yang merupakan cikal bakal keberadaan kita saat ini, tentu kita harus mengetahuinya. Sebelum kita membahas mengenai asal usul nenek moyang, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa arti nenek moyang itu?


Arti Nenek Moyang

Nenek moyang itu adalah manusia yang hidup jauh diatas kita atau biasa disebut dengan leluhur, dan mereka merupakan panutan beberapa golongan orang yang memepercayai ilmu ilmu yang diberikan oleh nenek moyang.


Asal Usul Nenek Moyang

Teori evolusi mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup berasal dari spesies hewan kecil yang tumbuh dari air. Mengenai hakikat penciptaan makhluk hidup dan teori evolusi sangat bertentangan dan tak dapat dipertemukan.


Sebab, hakikat penciptaan makhluk mengabaikan pandangan tentang evolusi. Setiap makhluk tercipta secara hakiki dan pasti, sementara evolusi tak layak disebut teori karena tidak memiliki dasar eksperimen ilmiah.


Buku 'Sains dalam Alquran' yang ditulis Nadiah Thayyarah menyebutkan, sepanjang sejarah manusia tidak pernah ada teori tanpa sandaran yang jelas. Mestinya hal itu berlaku pula pada teori Darwin.


Sebagian ahli mengatakan, sesungguhnya teori Darwin bertentangan dengan penjelasan mekanisme bagaimana makhluk hidup diciptakan dan diatur keberadaannya. Hal inilah yang dijelaskan dalam Islam melalui firman Allah.


"Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) Bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu," Surah Al 'Ankabut Ayat 20.


Sementara dalam ayat lain, Allah berfirman di Surah Al Maidah. "Katakanlah: ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," Surah Al Maidah Ayat 60.


Banyak orang meyakini bahwa makna ayat itu mengisyaratkan kera menjadi asal mula makhluk keturunan berikutnya, yaitu manusia. Pemahaman ini keliru. Riset-riset ilmiah modern menegaskan bahwa teori evolusi adalah teori yang salah dan tak memiliki dasar yang sah.


Dua orang pakar dari Pusat Riset Ilmiah Prancis, Petit dan Prevost, mengatakan bahwa manusia telah berpegang pada gagasan evolusi, tetapi pemikiran itu belakangan segera terbantahkan.


Pakar lain, Boule menyatakan tidak ada satu material pun yang bisa mendorong manusia berpikir tentang perubahan bentuk kera menjadi manusia. Sedangkan menurut Dr. Husain Hamdan, riset-riset terkini di bidang biologi molekuler telah sampai pada penegasan bahwa Siti Hawa adalah nenek moyang manusia modern, yakni manusia berjenis kelamin perempuan pertama yang ada di Bumi. Jadi bisa disimpulkan bahwa nenek moyang manusia bukanlah kera.


Berbicara mengenai asal usul nenek moyang dari bangsa indonesia merupakan salah satu bagian yang cukup unik yang tidak bisa kita lepaskan dari keberadaan kita di negara ini. Sebagai manusia yang memiliki budi, sudah sepantasnya kita tidak pernah melupakan sejarah mengenai dari mana asal mula serta sebabnya hingga kita berada di sini, di tanah air indonesia. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui asal usul nenek moyang bangsa Indonesia.


Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Bila kita lihat ke belakang mengenai asal muasal dari keberadaan nenek moyang bangsa Indonesia ini, maka kita akan mendapatkan berbagai gambaran yang sangat beragam. Sebagian besar teori yang menjelaskan tentang keberadaan kebudayaan prasejarah bangsa indonesia yang datang dari Barat telah menjelaskan bahwa nenek moyang bangsa kita berasal dari Asia Tenggara (Bangsa Yunan atau Indocina).


Mereka telah diduga datang dalam dua gelombang migrasi yang sangat besar. Mereka diperkirakan sampai di nusantara pada sekitar 5000 SM dan tahun 2000 SM. Mereka datang dengan cara menyeberang Kepulauan Samudera India dan menyebar dari Madagaskar ke Filipina dan Melanesia yang akhirnya menyatu dengan  penduduk asli setempat. Dan kemudian mereka disebut dengan nama nenek moyang bangsa Indonesia.


Banyak sekali Pendapat yang muncul dan membicarakan masalah asal usul nenek moyang bangsa indonesia. Argumen-argumen yang dikemukakan oleh para ahli sejarah, juga telah disertai dengan pembenaran dari dugaannya masing-masing.


Di antara banyaknya pendapat tersebut, ada salah satu pendapat yang tampaknya memiliki bukti dan juga dasar pemikiran yang sangat kuat. Pendapat tersebut adalah pendapat yang dikemukakan oleh seorang sejarawan yang berasal dari negeri Belanda, yaitu Von Heine Geldem.


Menurut penelitian dari Von Heine Gelderm yang berargumen bila asal usul dari nenek moyang kita bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Ia menerangkan bahwa semenjak tahun 2000 SM sampai tahun 500 SM, ketika itu zaman batu Neolithikum hingga zama perunggu telah terjadi migrasi antara penduduk purba dari wilayah Yunan (Cina Selatan) ke beberapa daerah di wilayah Asia Bagian Selatan hingga masuk ke Indonesia. Perpindahan manusia purba itu terjadi secara besar-besaran diperkirakan karena adanya suatu bencana alam yang sangat hebat dan juga adanya perang antar suku bangsa.


Kemudian oleh Gelderm, daerah kepulauan di bagian Asia Selatan ini di namai dengan sebutan Austrnesia yang memiliki arti pulau selatan. Austro artinya selatan, sedangkan Nesos artinya pulau. Wilayah Austronesia sendiri memiliki cakupan wilayah yang sangat luas yang meliputi pulau-pulau yang ada di Malagasi atau Madagaskar (sebelah selatan) sampai pada Pulau Paskah (sebelah timur) dan juga Taiwan (sebelah Utara) sampai pada Selandia Baru (sebelah Selatan).


Pendapat yang dikemukakan oleh Von Heine Gelderm ini mengambil latar belakang dari penemuan yang banyak peralatan manusia purba pada masa lampau yang berupa batu beliung dengan bentuk persegi. Peralatan tersebut ditemukan di daerah-daerah di sekitar Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan juga sulawesi. Peralatan manusia purba  yang ditemukan di wilayah itu hampir sama persis dengan peralatan manusia purba yang ditemukan di wilayah Asia lainnya seperti Myanmar, Vietnam, Malaysia, dan juga Kamboja terutama di wilayah sekitar Yunan.


Dari pendapat yang dikemukanan oleVan Heine Gelderm tersebut, ternyata pendapat tersebut juga mendapat  dukungan oleh hasil penelitian Dr. H. Kern pada taun 1899. Hasil penelitian tersebut membahas tentang 113 bahasa daerah yang ada di Indonesia. Selain itu, penelitian dari Dr. H. Kern telah menyimpulkan bahwa semua bahasa daerah yang awalnya bersumber pada satu rumpun bahasa, kemudian rumpun tersebut dinamai dengan bahasa Austronesia.


Menurut pendapat Gelderm, manusia purba tidak hanya satu kali saja dalam melakukan migrasi dari daratan Yunan. Melainkan ia menyebutnya beberapa kali yaitu Gelderm menyebut gelombang migrasi terjadi juga pada tahun 400 hingga 300 sm ketika zaman perunggu. Manusia purba yang melakukan migrasi tersebut telah membawa bentuk kebudayaan-kebudayaan Perunggu diantaranya seperti kapak sepatu, dan nekaa yang asalnya dari daratan Dong Son.


Lalu mengapa nenek moyang bangsa indonesia datang ke indonesia dengan dua jalur? Karena kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Yuan terbagi menjadi 2 gelombang, yaitu gelombang pertama atau proto Melayu yang datang pada zaman batu tua (Neolitikum) dan gelombang kedua atau Deutro Melayu yang datang pada zaman perunggu.


Kemudian bagaimana nenek moyang kita mewariskan adat istiadatnya? bagaimana asal usul nenek moyang indonesia berdasarkan teori yunan?


Nenek moyang mewariskan tradisi atau adat istiadatnya melalui keluarga dan keturunannya langsung atau melalui peninggalan sejarah seperti artefak, buku, patung, rumah adat/candi yang otomatis dilanjutkan oleh generasi penerusnya secara turun temurun. Sehingga warisan kebudayaan dari nenek moyang tersebut masih lestari hingga saat ini. Adapun asal usul nenek moyang Indonesia berdasarkan teori yunan yaitu:


Asal Usul Nenek Moyang Indonesia Berdasarkan Teori Yunan

Teori Yunan merupakan salah satu dari 4 teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Dalam teori yunan disebutkan bahwa manusia-manusia purba di Indonesia yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina bagian selatan. Beberapa ahli yang mendukung teori Yunan adalah Dr. J.H.C. Kern, Robert Barron van Heine Geldern, Prof. Dr. N.J Krom, dan Moh. Ali.


Menurut Moh. Ali bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak ke selatan oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat. Menurut pendukung teori Yunan, pendapat mereka didasari oleh dua hal berikut.

Ditemukan kapak tua di wilayah Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ada di kawasan Asia Tengah.

Bahasa melayu yang berkembang di Nusantara memiliki kemiripan dengan bahasa Champa yang ada di Kamboja. Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa penduduk di Kamboja berasal dari daratan Yunan dengan menyusuri Sungai Mekong. Arus perpindahan tersebut selanjutnya diteruskan ketika sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampei ke Nusantara. Kedatangan manusia dari Yunan ke kepulauan Nusantara ini dengan melalui tiga gelombang utama (perpindahan orang Negrito, Proto-Melayu, dan Deutro Melayu).


Nah, itulah sejarah mengenai asal usul nenek moyang kita. Jadi dari sini bisa kita simpulkan bahwa nenek moyang manusia bukanlah kera, dan setiap negara mempunyai asal usul nenek moyang yang berbeda. Demikian penjelasan ini kami sampaikan, semoga infomasi ini bisa menambah pengetahuan serta bisa bermanfaat bagi Anda.


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==