Kategori

Cerita Mahasiswa di Medan Wisuda Online Sambil Tunggui Ibu yang Sakit

By On Oktober 27, 2020

 


Kisahnya penuh inspirasi dan bikin haru.
Gara-gara pandemi Covid-19, sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia terpaksa melaksanakan kegiatan kampus secara online, baik momen perkuliahan atau bahkan sampai wisuda.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, misalnya, adalah salah satu di antara kampus yang melaksanakan wisuda online itu.

Wisuda online tersebut bisa disaksikan secara langsung oleh orangtua maupun netizen. Namun ada satu momen mengharukan dari wisuda online yang digelar UMI Makassar.

Wisuda Sambil Menunggu Ibu yang Sakit

Momen haru tersebut direkam oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri UMI Makassar, Zakir Sabara HW, dan diunggah di Instagram pada Senin, 26 Oktober 2020.

Dalam video, seorang mahasiswa yang mengenakan toga lengkap mengikuti wisuda online sambil menemani sang ibunda yang sedang terbaring di sebuah kamar.

Mahasiswa bernama Musawir Dai itu merupakan seorang wisudawan dari Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri UMI Makassar. Musawir yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, terpaksa melakukan wisuda online di kamar hotel tempat ibunda dirawat.

Ibu Sedang Menanti Hasil Swab Sebelum Dirawat

" Musawir Dai, Wisudawan dari Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri UMI Makassar, saat ini berada di salah satu hotel di Kota Medan, hotel yang dekat dari RS Siloam Medan," tulis Zakir Sabara dalam unggahannya.

Menurut keterangan Zakir Sabara, saat itu Musawir sedang menantikan hasil swab dari RS Siloam. Musawir sangat sabar menunggu sang ibunda, meski sambil melaksanakan wisuda online.

" Keberadaan ananda Musawir Dai di Hotel tersebut karena sementara menunggu hasil SWAB Ibundanya sebelum dirawat di RS Siloam sesuai aturan rumah sakit," sambung Zakir Sabara.

Doa dari Dosen untuk Ibu Mahasiswa

Tidak hanya memperlihatkan sifat Musawir yang berbakti kepada ibunya, Zakir Sabara HW juga mendoakan agar ibu mahasiswanya itu segera mendapat kesembuhan, dan bisa kembali sehat.

" Untuk Ananda MUSAWIR DAI (@_m.dai) yang mengikuti prosesi wisuda dari Medan Sumatera Utara, Doa & Simpati kami semua dari Makassar Nak...!!!

" Semoga Ibunda Tercinta yang sedang terbaring sakit dan mendampingi saat mengikuti wisuda online sesi kedua siang ini, SEGERA BISA SEMBUH dan SEHAT KEMBALI," tulis Zakir Sabara dalam unggahannya.

Zakir Sabara juga langsung menghubungi Musawir via aplikasi WhatsApp untuk mendoakan ibu dari mahasiswanya tersebut.

Sumber: Brilio.net

Pembelajaran Jarak Jauh Akan Permanen, Tina Toon: “Trus Smartphone dan Kuota Internetnya Dibayarin Mas Menteri? Kan Ga Semua Orang Kaya?

By On Oktober 21, 2020

Pándemì covìd-19 memáng belum berákhìr dán muncul wácáná pembelájárán járák jáuh ákán dìpermánenkán. Tìná Toon memberìkán krìtìk pedás átás rencáná Menterì Pendìdìkán dán Kebudáyáán, Nádìem Mákárìm mengenáì pembelájárán járák jáuh yáng ákán menjádì permánen. Tìná mengungkápkán krìtìknyá dì lámán ìnstágrámnyá.



Sebelumnyá, Nádìem sempát mengungkápkán báhwá pembelájárán járák jáuh bìsá dìterápkán secárá permánen seteláh Covìd-19 selesáì. Meskì begìtu, Tìná námpáknyá benár-benár ták setuju dengán rencáná Nádìem ìtu.

Iá mengunggáh sáláh sátu berìtá mengenáì rencáná Nádìem ìtu. Kemudìán, Tìná menyorotì perìhál penggunáán ponsel pìntár mìlìk párá sìswá. Iá kemudìán mempertányákán ápákáh kuotá ìnternet ákán dìsokong oleh Nádìem.

Tìná merásá báhwá tìdák semuá pelájár melek teknologì dán bukán berásál dárì kálángán menengáh ke átás yáng ták kesulìtán dálám memenuhì kebutuhán kuotá ìnternet. “Trus smártphone dán gádget dán kuotá ìnternetnyá semuá dìbáyárìn Más Menterì??? Kán gá semuá másyárákát oráng káyá ???? Kán gá semuá másyárákát melek teknologì kyk dì kotá besár, yg dì pelosok2 gmn?,” krìtìk Tìná.


Bukán hányá ìtu yáng dìsorotì oleh Tìná. Iá pun memìntá ágár Mendìkbud menuntáskán másáláh Penerìmáán Pesertá Dìdìk Báru átáu PPDB. Kátá Tìná, bányák ánák yáng stress gárá-gárá másáláh PPDB ìnì.

“PPDB dulu nìhh hárus ádá solusì terbáìkk. Bányákkk ánák yáng stress kásìhánnn,” pápárnyá. Tìná mengátákán, ìá mendápátkán bányák láporán dárì wìláyáh mengenáì PPDB yáng ták berjálán dengán mulìs. Adá bányák perlákuán ták ádìl dán ìá mengáják másyárákát untuk mengáwál jálánnyá PPDB.

Iìnì sáláh sátu dárì bányák láporán dárì wìláyáh soál PPDB. Yáng berprestásì tìdák mendápátkán perlákuán yáng fáìr. Yáng penghásìlánnyá kuráng tìdák mendápátkán sekoláh negerì hárus báyár sekoláh swástá,” teráng Tìná. “Zoná umur dìprìorìtáskán. Muláì hárì ìnì ádá seleksì dárì bìná RW, dìcobá yá untuk párá murìd dán ortu!! Semángát!! Kìtá káwál bersámá,” sámbungnyá.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang


Sumber : Berbagai Sumber Media Online/dikutipnews.com

Beginilah 5 Jawaban Anak SD Ini Yang Bikin Ngakak, ,Yuk Di Lihat...

By On Oktober 14, 2020

 Beginilah Jawaban kocak siswa SD kerap menjadi viral.Jawaban polos murid pada pertanyaan pelajaran sekolah kerap membuat netizen terpingkal-pingkal.


Sempat beredar jawaban seorang siswa SD ketika melanjutkan peribahasa, "Bersatu kita teguh, bercerai.... nikah lagi" hingga mendeskripsikan tugas polisi adalah baris-berbaris dan minta uang.

Kali ini, viral lembar jawaban dari seorang siswa bernama Hananta kelas VI A dari SDN Cisarua ini menuliskan jawaban yang dianggap tidak ilmiah. Seperti berikut ini.



Nama: Hananta
Kelas: VIA
SD: SDN Cisarua

1. Bagaimana cara makhluk hidup berkembang biak dengan membelah diri?
Jawab: Operasi sesar

2. Sebutkan tanaman yang mengandung yodium?
Jawab: Enceng gondok

3. Apakah fungsi hati?
Jawab: Tempat menemukan cinta dan kasih sayang

4. Tebu dan sagu menyimpan makanan pada batang. Sedangkan manusia menyimpan pada?
Jawab: Kulkas

5. Apa yang dimaksud dengan mamalia?
Jawab: Ibu dari seorang anak yang bernama 'Lia'

Netizen pun bereaksi melihat unggahan tersebut di akun Instagram Path Indonesia, Jumat (10/2/2017).

dianagustiarini, "somvlak."

rekahr, "kwkkwwk."

5. Apa yang dimaksud dengan mamalia?
Jawab: Ibu dari seorang anak yang bernama 'Lia'

Netizen pun bereaksi melihat unggahan tersebut di akun Instagram Path Indonesia, Jumat (10/2/2017).

dianagustiarini, "somvlak."

rekahr, "kwkkwwk."

bligoesva, "Genius."

intaratyh, "wakaka murid e."

syabebz, "Alahhuakbar @intaratyh salah pergaulan ikuu."

zakyshafwan, "Cannes_07 ojok sampe farel jawab koyok ngene ,,,,isok gak lulus.




Sumber : http://style.tribunnews.com

Hampir 3 Bulan Sekolah Online, Guru dan Murid Ini Ternyata

By On September 29, 2020


Dalam masa pandemi Covid-19 ini membuat cukup banyak perubahan kebijakan. Salah satunya terkait proses belajar mengajar. Untuk menimalisir penyebaran virus Corona Covid-19 di Indonesia, banyak sekolah yang memberlakukan sistem belajar di rumah atau sekolah online.

Belajar di rumah ini diterapkan untuk anak sekolah, dari PAUD hingga SMA. Imbauan tersebut akhirnya membuat sekolah dan kampus meliburkan proses belajar mengajar dan mengganti dengan kelas online antara guru dan murid. Para guru dan murid ini biasanya berinteraksi via pesan singkat, video call dan lain sebagainya.

Berbagai cerita tentang sekolah online pun mewarnai linimasa media sosial. Salah satunya, kisah unik yang satu ini. Mengumpulkan tugas dan berbagai materi pelajaran melalui pesan singkat di WhatssApp selama 3 bulan lamanya. Rupanya guru dan murid ini berbeda sekolah, bahkan berbeda kabupaten. 

Sang guru yang diketahui bernama Harianto Andi Ma'tu ini baru menyadari ketika sang murid mengklarifikasi nama sang guru. Namanya pun berbeda dengan dirinya. Guru yang sebenarnya merupakan rekan kerja Harianto. 

Untuk berita selengkapnya, berikut Liputan6.com ulas dari berbagai sumber, kisah guru dan murid yang beda sekolah, Selasa (29/9/2020). 


Sudah 3 Bulan Berinteraksi


Kisah ini bermula saat Harianto Andi Ma'tu guru di Mamuju, Sulawesi Tengah ini mendapat pesan singkat dari siswa kelas 7 IPA pada 29 Juli 2020. Sang murid mengumpulkan tugas pertamanya, ia juga mengecek nama dan alamat. Namun ia bingung dengan alamat yang ditulis sang murid. Hari pun berpikir sang murid hanya salah tulis alamat.


Ia juga menyapa Hari dengan sebutan 'Bu', padahal seharusnya menggunakan 'Pak'. Namun, Hari masih memaklumi karena mungkin belum kenal. Pada bulan Agustus sang murid mengirmkan tugas ke-2nya, tetapi sang murid masih memanggilnya dengan sebutan 'bu. Ia pun menjelaskan namanya berharap disapa dengan panggilan 'Pak'.


Hari mulai curiga saat sang murid tak pernah membahas aplikasi belajar online. Padahal, tugas dan modul ada disana. Namun, dilain sisi ada seorang anak dengan nama mirip sudah mengirimkan tugas pekanan dari aplikasi. Masih sama, ia pun tetap disapa Bu oleh sang murid. 


Hari pun terus mencantumkan nama lengkapnya agar sang murid bisa memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Hingga akhirnya pada 24 September 2020, sang murid mengklarifikasi nama gurunya. "24 September 2020, ananda kembali bertanya perihal tugasnya dan mengklarifikasi nama gurunya, dengan Ibu U..?"  ujar Hari di laman Facebooknya pada 25 September 2020 lalu. 

Sejak saat itu, Hari pun mulai menyadari bahwa sang murid berasal dari sekolah yang berbeda. 


Berbeda Sekolah dan Kabupaten

Setelah sang murid mengonfirmasi nama sang guru, Hari pun baru menyadari bahwa muridnya berasal dari sekolah yang berbeda. Ia pun memeriksa kembali tugas yang sudah sang murid kumpulkan. Saat ditelusuri, di catatan lembar tertulis nama dan nomor ponsel berbeda, bukan milik guru SMP Budong-Budong ini. 


"Astaga, baru sadar ananda sepertinya bukan siswa dari sekolah kami. Saya kembali periksa foto jawaban modul yang telah dikirimkannya. Pada foto pertama tak ada yang aneh (kecuali alamat tadi), pada foto modul tugas ke 2 dan 3, saya perhatikan pada catatan lembar tertulis nama dan nomor ponsel berbeda, bukan milik saya (benar bahwa ananda bukan siswa kami). Tertulis nama dan nomor adik kelas, teman, rekan saya di kabupaten tetangga."  ujar Hari di laman Facebooknya pada 25 September 2020 lalu. 


Dalam lembar tersebut, tertulis nama rekan guru lain yang berbeda sekolah bahkan berbeda kabupaten. Murid berasal dari Pasangkayu, Sulawesi Barat. Sedangkan, Hari berasal dari Mamuju, Budong-Budong Sulawesi Barat. 


Ia pun mengklarifikasi kepada murid bahwa mereka berbeda sekolah, namun sang murid tetap boleh belajar bersama Hari. 


Komentar Warganet

Diunggah melaui akun Facebook Harianto Andimatu pada Jumat 25 September 2020 lalu, kisah unik ini mendapat perhatian warganet. Tak sedikit warganet yang ikut tergelitik sekaligus heran dengan kisah ini, 


"Kak lucu, sejak awal dipanggil ibu" ujar salah satu akun Facebook. 

"Hahahahaha lamanya nyasar" ujar warganet lainnya menimpali. 




sumber : https://hot.liputan6.com/ 

Bingung Mana yang Didahulukan Aqiqah atau Kurban? Begini Jawaban Ustaz Adi Hidayat

By On Juli 29, 2020





Tak usah bingung, simak penjelasan ustadz Adi Hidayat berikut

Beliau menjelaskan mengenai pengertian, waktu pelaksanaan dan juga prioritasnya. Jangan sampai terbalik, begini pelaksanaan yang tepat sesuai syariat Islam.

Menjelang Hari Raya Idul Adha muncul beragam pertanyaan. Salah satunya adalah terkait mana yang perlu didahulukan antara aqiqah dan berkurban.

Berikut penjelasan terkait aqiqah atau berkurban Idul Adha 2020 terlebih dulu menurut ustaz Adi Hidayat.

Dalam pelaksanaannya, muncul pertanyaan bagaimana jika seseorang ingin berkurban tapi belum diaqiqah

Dalam video YoutUbe ustaz Adi Hidayat, Tanya - Jawab Dzulhijjah SESI #5 - Berqurban atau Aqiqah dulu? ia menjelaskan untuk mendahulukan aqiqah terlebih dahulu jika masih masuk dalam rentang waktunya. Namun jika tidak dianjurkan berkurban.


Pengertian Ibadah Aqiqah dan Qurban 

Ustaz Adi Hidayat berpegang kepada pemikiran sejumlah ulama Malikiah dan Syafi'iah. Ia mengawali dengan memberikan pengertian aqiqah dan waktu pelaksanaannya.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan jika batas waktu aqiqah dibagi menjadi dua yakni batas waktu awal adalah 7 hari pertama setelah bayi lahir, dan bisa hari ke 14 atau kelipatannya (hari ke 21), atau pada batas waktu akhir atau ghulam yakni sebelum anak baligh/dewasa.

Jika batas akhirnya sudah terlewat maka sudah tidak berlaku hukum aqiqah tersebut. Pria 35 tahun ini juga menuturkan pelaksanaan Aqiqah dilakukan oleh orang tua untuk anaknya.

"Aqiqah itu ibadah yang ditunaikan untuk bisa dengan ibadah itu diharapkan menjadi pengarah kepada anak untuk tumbuh lebih baik di masa depan. Karena itu ibadah ini ditujukan spesifik kepada anak, atau penebus anak sebelum dia dewasa" jelasnnya.

Berbeda halnya dengan qurban, lanjut Ustaz Adi Hidayat, kurban tidak spesifik ditujukan pada anak melainkan kepada orang secara umum.

"Sedangkan kurban itu tidak spesifik ditujukan kepada anak, tapi lebih kepada jiwa atau diri yang bersifat umum, bukan spesifik dalam rentan usia. Bisa untuk anak-anak, orang dewasa, kakek, nenek, bahkan ini bisa diarahkan pada yang sudah wafat." tambahnya.

Hewan Aqiqah

Aqiqah Berbeda dengan Qurban

Mengacu pada pengertian tersebut, maka Aqiqah berbeda dengan qurban serta memiliki ketentuan-ketentuan yang berbeda satu sama lain.

"Dari sini dilihat kemudian oleh ulama Malikiyah, Syafiiah, dengan referensi yang saya sebutkan, karena sifatnya beda, beda jenis, tidak sama, maka mereka lebih memilih untuk memisahkan antara aqiqah dengan kurban, aqiqah sendiri, kurban sendiri.

Jadi kalo Anda ingin aqiqah niatkan aqiqah dengan ketentuan yang berlaku, kalo Anda ingin kurban maka silahkan niatkan untuk kurban." jelasnya.

"Kapan waktunya? Kalau ada waktu aqiqah (anak belum baligh), karena aqiqah itu waktunya terbatas sampai menjelang dewasa maka dalam konteks ini dahulukan aqiqah dulu." tambahnya.

Ia mengingatkan jika aqiqah waktunya terbatas hingga sebelum anak dewasa dan dilakukan oleh orang tua untuk anak. Sedangkan kurban waktunya tidak terbatas sampai kapanpun dan dilakukan diri sendiri.

"Jadi dahulukan aqiqah kalau momentumnya bersamaan, tapi kalau momentumnya sudah lewat (aqiqah-anak terlanjur dewasa), Anda bisa dahulukan kurban, karena ini (aqiqah) sudah lewat waktunya.

Kecuali Anda berniat untuk bersodaqoh untuk berniat menutup aqiqah yang sudah lalu, bukan ibadah aqiqahnya, tapi sodaqohnya yang Anda lakukan. Maka itupun terpisah, lakukan sodaqoh di waktu yang lebih umum, dan dahulukan kurban di waktu yang bersamaan dengannya, yaitu waktu-waktu di awal Dzulhijjah, sampai dengan hari tasyriknya," terangnya.

Pada bagian kesimpulan ustaz Adi Hidayat menegaskan jika seseorang memiliki rezeki berlebih bisa memisahkan antara ibadah aqiqah dengan qurban.

Hal ini lantaran dua hal tersebut adalah dua pokok ibadah yang berbeda dan memiliki ketentuan masing-masing. Ia menganjurkan pula agar melakukan aqiqah terlebih dahulu sedangkan qurban bisa masuk di waktu-waktu yang telah ditetapkan dan saat momen Idul Adha.

Nah, itulah perbedaan aqiqah dan qurban serta pelaksaannya. Jadi dianjurkan untuk melakukan aqiqah terlebih dahulu, kemudian menunaikan qurban.

Tapi jika anak-anak sudah dewasa, Ayah dan Bunda bisa menunaikan qurban. Dan jika mampu, bisa menunaikan shodaqoh pengganti qurban. Semoga segala amal shaleh yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT.

Tak Punya Hp, Dimas Terpaksa Belajar Sendiri, Masih Banyak yang Senasib

By On Juli 24, 2020




Bahkan mungkin tidak hanya Dimas saja masih banyak yang senasib

Sedih melihatnya, Dimas rela belajar tatap muka di sekolah meski menjadi murid satu-satunya. Disaat temannya bisa belajar di rumah yang sudah dilengkapi smartphone, namun dimas harus belajar. Bagaimana dengan kondisi di daerah anda?

Dimas Ibnu Alias tetap bersemangat bersekolah meski ia jadi satu-satunya murid dalam proses belajar tersebut. Dia terpaksa bersekolah sendirian karena tak punya ponsel pintar (smartphone). Dimas dinilai sebagai gambaran fenomena batu es. 

Kasus yang diangkat dan diberitakan mungkin hanya Dimas seorang. Namun sebenarnya di daerah-daerah lainnya juga masih banyak kasus yang serupa. 

"Kasus seperti Dimas dengan kesulitan membeli smartphone ini sebenarnya banyak, baik di kota besar maupun di pelosok daerah," kata pemerhati pendidikan dari lembaga swadaya masyarakat Komisi Nasional Pendidikan (Komnas Pendidikan), Andreas Tambah, dikutip dari detikcom, Kamis (23/7/2020).


Dimas merupakan siswa kelas VII SMPN 1 Rembang, Jawa Tengah. Teman-teman Dimas bisa belajar dari rumah secara daring karena punya ponsel pintar dan juga paket data. Namun karena keterbatasan pada keduanya, Dimas tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh. 

Pemerintah Daerah Perlu Ambil Kebijakan

 
"Dalam kasus Dimas ini, pemerintah daerah setempat harus mengambil kebijakan tentang relaksasi penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan dana BOP (Bantuan Operasional Pendidikan)," kata Andreas.

Andreas mengingatkan terkait kebijakan dari Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan juga kepala daerah. 

Nadiem telah merevisi Permendikbud tentang Penggunaan Dana BOS dan BOP PAUD demi meyesuaikan kondisi sulit seperti pandemi sekarang ini. 

Dalam Permendikbud yang disetujui Nadiem pada 9 April 2020 itu, ada Pasal 9A huruf a yang mengatur bahwa sekolah dapat menggunakan dana BOS reguler untuk membeli pulsa, paket data, dan layanan pendidikan daring berbayar. Hal ini bisa dinikmati oleh pendidik dan juga peserta didik. 


Lantas bagaimana beli pulsa bila ponsel pintar saja tidak punya?

"Kalau hanya satu orang (Dimas), kenapa sekolah tidak membiayai untuk membeli smartphone? Toh smartphone Rp 1 juta juga sudah bagus. Ini supaya Dimas bisa seperti yang lain. Mau tidak mau, zaman sudah berubah, konsep pembelajaran juga berubah karena situasi tidak memungkinkan untuk tatap muka," tutur Andreas.


 
Di kondisi pandemi virus Corona ini, sekolah-sekolah harus mengurangi biaya-biaya yang kurang prioritas untuk penghematan anggaran. Lebih baik, biaya yang tidak mendesak langsung dialihkan untuk membantu siswa yang tidak mampu secara ekonomi seperti Dimas.

"Banyak sekali yang mengeluh dengan masalah yang sama seperti Dimas," kata Andreas.

Dimas yang merupakan putra dari Didik Suroyo seorang nelayan dan Asiatun yang merupakan buruh pengeringan ikan. Dimas diizinkan berangkat sekolah untuk belajar dengan metode tatap muka meski hanya belajar seorang diri. 

Pihak sekolah sengaja membuat kebijakan khusus bagi siswa yang tak memiliki gawai untuk belajar. Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 diterapkan selama pembelajaran tatap muka berlangsung. 

Kasus serupa mungkin saja dialami oleh siswa lainnya, sebab tak semua orang akrab dengan teknologi kekinian seperti halnya smartphone. Khususnya masyarakat yang berada di daerah pelosok. 

Sehingga tentu saja, pembelajaran jarak jauh menjadi tidak solutif bagi kondisi masyarakat yang awam dengan smartphone bahkan tak memilikinya. 

Semoga kasus-kasus serupa segera bisa ditindaklanjuti agar siswa bisa belajar dengan baik dan mendapatkan halnya dalam menuntut ilmu. 

Siswi SD ini Kabur dari Rumah, Setelah Diomelin Ibu Karena Habiskan Pulsa untuk Tugas Online

By On Juli 17, 2020





Untung saja anak ini bisa ditemukan kembali, karena bertemu orang yang baik. Jika ketemu orang yang jahat bisa-bisa anak diculik atau bahkan dibunuh.

Kasus seperti ini banyak terjadi, emosi sesaat sehingga menggelapkan hati dan pikiran padahal kuota bisa dibeli lagi tapi jika anak hilang?

Siswi SD bernama Lintang Fitrah nekat kabur dari rumah. Lintang diketahui duduk di kelas 5 SD (11), ia nekat kabur usai dimarahi ibunya, Purwanti (32) karena telah menghabiskan pulsa untuk tugas daring dari sekolah.

Lintang sendiri kabur dari rumahnya di Sememi, Benowo Surabaya, dengan jalan kaki tanpa sandal hingga di kawasan Margomulyo.

Dia kemudian ditemukan oleh pedagang sate bernama Mustofi (33) yang kebetulan mengetahui anak tersebut.

"Pas pertama kali saya lihat dia kayak ketakutan dan berhenti di depan tempat saya jualan. Nah kemudian saya tanya mau ke mana. Tapi jawabnya mau jalan-jalan cari uang buat ganti pulsa ibunya yang dihabisin buat tugas daring," beber Mustofi dikutip dari detik.com, Kamis (16/7/2020).

Jawaban Lintang malah semakin membuat Mustofi penasaran. Sebab saat itu, Lintang tak memakai alas kaki dan pakaiannya tidak menunjukkan seperti anak jalanan.

Setelah ditelisik lebih dalam, Lintang menyebut alamat rumahnya di Kendungrejo dan mengaku masih sekolah.

Mendengar pengakuan Lintang dari Kendungrejo, Mustofi menghubungi RT daerah itu. Dan memang benar anak itu dari sana dan langsung dijemput oleh sang ayah.

"Pak Mulyadi terus konfirmasi ke RT dan diberitahu jika anaknya ada di Margomulyo. Setelah itu beberapa saat kemudian dijemput sama ayahnya," imbuh Mustofi.

Pulsa Telepon Kesedot Karena Belum Ada Paket Internet 

Purwanti, ibu dari sang anak di Jalan Kendungrejo Sememi, Benowo, membenarkan bahwa putrinya memang kabur dari rumah pada Rabu (15/7) sekitar pukul 18.00 WiB.

Purwanti mengakui sempat menegur putrinya itu. Sebab putrinya menggunakan ponselnya untuk online mengerjakan tugas daring sekolah, hingga pulsa teleponnya habis.

"Iya benar kabur kemarin Rabu. Sekitar habis magrib. Sebenarnya gak marahin. Cuma saya tegur kok gak bilang kalau mau online. Kan itu HP saya gak ada paket datanya, terus dipakai kan nyedot pulsa telepon," ujar Purwanti.

Menurut Purwanti, selama belajar daring, dia harus rutin membelikan putrinya kuota internet. Jika tak ada kuota, biasanya putrinya ikut nebeng wifi di warung depan rumahnya.

Titin panggilan akrabnya sang ibu mengungkapkan, ia baru sadar putrinya kabur setelah suaminya Marwan (40) saat pulang kerja menanyakan keberadaan Lintang.

Lalu, dia dan suaminya kemudian mencari di sekitar gang tapi tak nampak keberadaan anaknya.

"Pas sadar suami saya pulang ngojek itu. Tanya Lintang ke mana, saya lihat di depan rumah gak ada. Tak cari di gang-gang juga gak ada," tukasnya.

Menurut Titin hampir sekitar 1,5 jam ia mencari putrinya, tapi tak jua menemukannya. Baru kemudian ada tetangganya yang menginformasikan bahwa putrinya itu sedang berada di Margomulyo.

"Ini baru pertama kali. Sebelumnya tak seperti ini, kaget juga soalnya kan lumayan jauh rumah sampai Margomulyo, kok bisa jalan kaki ke sana sendirian," jelasnya.

"Itu anaknya sudah di rumah masih garap tugas sekolah online lagi. Kadang dia nebeng ke warkop kalau tidak punya paket dan bayar gitu ke warkopnya," tandasnya.

Pembelajaran jarak jauh atau melalui daring memang dilakukan selama pandemi COVID-19. Kebijakan ini diterapkan Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim guna mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Belajar daring ini dilakukan karena di wilayah Jatim, terutama di Surabaya masih berada di zona merah.

Memang urusan kuota ini jadi imbas adanya pembelajaran jarak jauh. Otomatis orang tua perlu mengeluarkan anggaran tambahan untuk membeli kuota. Tentu bikin pusing juga, utamanya bagi masyarakat golongan bawah.

Namun, meski kesulitan membeli kuota, jangan sampai kasus serupa terjadi lagi. Masih untung a si anak bertemu dengan orang baik. Kalau tidak kan bisa banyak bahaya yang mengintai.

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==